DEMAK – Menahan lapar dan dahaga hanyalah kulit luar, karena makna puasa sejati adalah reformasi diri untuk mengendalikan nafsu indrawi hingga pola pikir materi. Hal tersebut diungkapkan oleh Rektor UIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawi, M.Ag., saat mengimami ribuan jamaah Idul Fitri 1447 H di Sport Center Demak Istimewa, yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Demak, Jumat (20/3/2026).
Target utama ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan mencetak pribadi yang memiliki kecerdasan finansial, emosional, dan spiritual. Ketiga aspek ini menjadi indikator keberhasilan seseorang dalam menjalani pendidikan ruhani selama sebulan penuh.
Kecerdasan Finansial dan Filantropi
Khotbah tersebut menekankan bahwa umat Islam harus memiliki kecerdasan finansial yang mumpuni. Hal ini terwujud melalui kemampuan mengatur limpahan rezeki agar pengeluaran tidak melampaui pemasukan. Namun, kecerdasan ini tidak berhenti pada penghematan pribadi saja.
“Muttaqin sejati selalu menafkahkan harta di jalan yang diridhoi, dalam keadaan lapang maupun sempit dan dalam segala situasi,” ujar Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawi, M.Ag. Beliau menambahkan bahwa zakat berfungsi untuk membersihkan diri sehingga harta menjadi suci dan membawa kebahagiaan bagi sesama.
Kendalikan Amarah dengan Kecerdasan Emosional
Selain urusan harta, makna puasa sejati juga mencakup kemampuan mengelola perasaan atau social intelligence. Seorang muslim yang berhasil lulus dari “madrasah Ramadhan” akan menjadi pemaaf terhadap kesalahan manusiawi. Mereka mampu menahan diri dari amarah yang tidak terkendali dalam interaksi sosial.
Prof. Zakiyuddin mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan sikap di era digital. “Bisakah kita menepi dari segala berita hoax dan provokasi, baik di Facebook, Instagram, WA, maupun segala lini?” tegasnya dalam pesan khotbah tersebut. Hal ini merupakan wujud nyata dari kecerdasan emosional dalam berinteraksi.
Puncak Ketaqwaan: Kecerdasan Spiritual
Puncak dari segala proses ini adalah pencapaian kecerdasan spiritual hakiki. Kecerdasan ini ditandai dengan kesadaran penuh untuk tidak mengulangi perilaku buruk dan senantiasa memperbaiki diri. Seseorang yang cerdas secara spiritual akan selalu merasa terpaut hatinya hanya pada Sang Pencipta.
Sebagai penutup, khotbah tersebut mengajak jamaah untuk menjadikan nilai-nilai Islami sebagai gaya hidup sehari-hari. Perubahan mental yang telah tereformasi selama Ramadhan harus tetap istiqomah di tengah hantaman gelombang globalisasi. Dengan demikian, ibadah puasa tidak hanya menjadi ritual tahunan yang mati suri.
(Hadi Susanto)



















