Pertanyaan tentang boleh tidaknya salat Jumat dijamak dengan salat Asar kerap muncul, terutama di kalangan kaum muslimin yang harus melakukan perjalanan jauh pada hari Jumat. Secara khusus memang tidak ditemukan dalil yang secara eksplisit menyebut praktik menjamak salat Jumat dengan Asar.
Namun, para ulama di Majelis Tarjih mendasarkan kebolehannya pada dalil-dalil umum tentang rukhsah safar, yaitu keringanan menjamak salat bagi orang yang sedang atau akan bepergian.
Dalam syariat Islam, musafir diperbolehkan menjamak salat Zuhur dengan Asar serta Magrib dengan Isya, baik secara jamak taqdim maupun jamak ta’khir. Adapun Subuh tidak termasuk salat yang boleh dijamak. Praktik ini memiliki dasar kuat dari sunnah Nabi Muhammad Saw.
Di antaranya adalah hadis riwayat Muslim dari Anas bin Malik:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ
[رواه مسلم]
“Bahwasanya Rasulullah saw apabila akan bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan salat Zuhur hingga waktu Asar, kemudian beliau berhenti dan menjamak keduanya. Apabila matahari telah tergelincir sebelum beliau berangkat, maka beliau salat Zuhur terlebih dahulu, kemudian naik kendaraan.” (HR. Muslim).
Riwayat lain dari Ahmad, melalui Kuraib dari Ibnu Abbas, menjelaskan lebih rinci pola jamak Rasulullah saw ketika safar:
أَلَا أُحَدِّثُكُمْ عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السَّفَرِ قَالَ قُلْنَا بَلَى قَالَ كَانَ إِذَا زَاغَتْ الشَّمْسُ فِي مَنْزِلِهِ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ يَرْكَبَ وَإِذَا لَمْ تَزِغْ لَهُ فِي مَنْزِلِهِ سَارَ حَتَّى إِذَا حَانَتْ الْعَصْرُ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِذَا حَانَتْ الْمَغْرِبُ فِي مَنْزِلِهِ جَمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْعِشَاءِ وَإِذَا لَمْ تَحِنْ فِي مَنْزِلِهِ رَكِبَ حَتَّى إِذَا حَانَتْ الْعِشَاءُ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا
[رواه أحمد]
“Maukah aku ceritakan kepada kalian tentang salat Rasulullah saw ketika bepergian? Kami menjawab, ya. Ibnu Abbas berkata: Jika matahari telah tergelincir sementara beliau masih di tempat tinggalnya, beliau menjamak Zuhur dan Asar sebelum berangkat. Jika belum tergelincir, beliau berjalan hingga masuk waktu Asar, lalu berhenti dan menjamak Zuhur dan Asar. Jika waktu Magrib telah tiba sementara beliau masih di rumah, beliau menjamak Magrib dan Isya. Jika belum tiba, beliau terus berjalan hingga masuk waktu Isya, lalu berhenti dan menjamak keduanya.” (HR. Ahmad).
Berdasarkan keumuman hadis-hadis tersebut, ketentuan jamak berlaku pula bagi perjalanan yang dilakukan pada hari Jumat. Dengan demikian, salat Jumat dapat diposisikan sebagai pengganti Zuhur, lalu dijamak dengan salat Asar bagi orang yang akan atau sedang safar. Pelaksanaannya dilakukan setelah salat Jumat.
Namun, apabila jamak itu dilakukan sementara seseorang masih berada di kampung halamannya dan belum benar-benar keluar wilayah tempat tinggalnya, maka salat Asar tetap dikerjakan secara sempurna empat rakaat, tidak boleh diqasar. Sebab qasar baru dibolehkan setelah seseorang benar-benar berada dalam perjalanan.
Hal ini berlandaskan firman Allah Swt dalam QS an-Nisa ayat 101:
وَاِذَا ضَرَبْتُمْ فِى الْاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ ۖ اِنْ خِفْتُمْ اَنْ يَّفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ اِنَّ الْكٰفِرِيْنَ كَانُوْا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
“Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqasar salat. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
Ayat ini menegaskan bahwa qasar berkaitan langsung dengan kondisi safar. Praktik Nabi saw juga menunjukkan hal yang sama. Dalam hadis riwayat Jama’ah dari Anas bin Malik disebutkan:
صَلَّيْتُ الظُّهْرَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَالْعَصْرِ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ
[رواه الجماعة]
“Aku salat Zuhur bersama Nabi saw di Madinah empat rakaat, dan salat Asar di Zul Hulaifah dua rakaat.”
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw baru mengqasar salat setelah benar-benar keluar dari Madinah.
Kesimpulannya ialah Salat Jumat boleh dijamak dengan salat Asar bagi orang yang akan atau sedang bepergian, dengan dasar keumuman dalil tentang jamak dalam safar. Jamak dilakukan setelah salat Jumat. Namun, selama masih berada di kampung halaman, salat Asar tetap dikerjakan empat rakaat dan belum boleh diqasar. Qasar baru berlaku setelah seseorang benar-benar memulai perjalanannya.
Referensi:
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “Salat Jumat dijamak dengan Asar “, Fatwa 06-1998.


















