Mencapai Ketenangan Jiwa Perspektif Islam

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.، أَمَّا بَعْدُ 

قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.  يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُم ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Jamaah salat Jumat yang berbahagia…

Alhamdulillah atas nikmat dan karunia Allah pada siang hari ini kita masih dapat berjumpa untuk mengerjakan ibadah salat Jumat di hari yang sangat mulia ini dibandingkan hari-hari biasa lainnya yaitu Hari Jumat.

Salawat beserta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw, kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Dan semoga kita termasuk umatnya yang mendapatkan syafaat kelak di Yaumul Qiyamah.

Jamaah salat Jumat yang berbahagia

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, manusia diciptakan Allah dengan dibekali dua unsur jiwa, yaitu jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan dan jiwa yang mengajak kepada kebaikan.

Dalam kosmologi Islam, istilah jiwa populer disandingkan dengan konsep al-nafs sebagaimana jamak digunakan dalam al-Qur’an, hadits maupun literatur ulama klasik.

Menurut buya Hamka inti jiwa adalah kalbu. Kondisi kalbu sangat ditentukan oleh pertarungan antara hawa nafsu dan akal. Jika akal lebih dominan maka kalbu akan baik. Sebaliknya, bila hawa nafsu yang lebih dominan maka kalbu akan rusak. Nafsu merupakan ancaman besar bagi diri setiap manusia, karena nafsu senantiasa mengajak kepada segala bentuk keburukan.

Jamaah salat Jum’at yang berbahagia…

Hawa nafsu adalah dalam diri manusia berfungsi sebagai motor penggerak. Hawa nafsu disebut sebagai daya ‘nafsani’ dan mengandung dua kekuatan negative yaitu kekuatan al-gaḍabiyyah dan al-syahwaniyyah. 

Al-gaḍab adalah daya yang memiliki potensi untuk menghindarkan diri dari segala hal yang membahayakan atau tidak nyaman.

Al-syahwat adalah daya yang memiliki potensi untuk menginduksi diri dari segala sesuatu yang bersifat menyenangkan.

Al-gaḍabiyyah dan al-syahwaniyyah ini melahirkan sebuah prinsip kerja nafsu yaitu berorientasi pada insting hewaniyah dan kenikmatan rendah (pleasure principle).

Untuk memenuhi insting tersebut, hawa nafsu akan berusaha menjauhkan jiwa dari ruh agar dapat diarahkan untuk mengaktualisasikan perilaku-perilaku menyimpang.

Prinsip kerja ini menyerupai naluri yang ada pada binatang yaitu agresi pada binatang buas dan seksual pada binatang jinak. Maka benarlah firman Allah yang menyebutkan bahwa adakalanya manusia seperti binatang bahkan lebih sesat lagi:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [٧:١٧٩]

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Qs. al-A’raf: 179) 

Jamaah salat Jum’at yang berbahagia…

Al-Qur’an membagi nafs menjadi beberapa macam yaitu:

  1. Nafs ‘Ammārah

Nafs ini mendorong orang untuk melakukan hal-hal yang kurang baik dan melakukan kejahatan sehingga cenderung melanggar aturan-aturan yang dilarang oleh Allah.

Nafs ‘Ammārah disebut juga nafsu biologis yang mendorong manusia untuk melakukan pemuasan kebutuhan biologis.

Orang dengan jiwa seperti ini tidak bisa membedakan yang baik dan yang buruk dan tidak bisa menimbang antara manfaat dan mafsadah. Firman Allah:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ [١٢:٥٣]

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Yusuf: 53).

Terdapat beberapa sifat khas dari pemilik nafsu ini yaitu penentang, pemarah, pendendam, kejam, sombong, pendengki, iri hati, tamak, ingkar dan munafik. Karena sifat-sifat buruk inilah mengapa nafsu ini disebut nafs ‘ammārah karena ia adalah pusat dari segala kesesatan dan kejahatan yang mendorong pemiliknya untuk memuaskan keinginan-keinginan rendah yang bersifat negative.

  • Nafs Lawwāmah

Orang dengan nafs jenis ini penuh dengan rasa insyaf dan menyesal karena sudah melakukan suatu pelanggaran sehingga ia tidak berani melakukan maksiat secara terang-terangan.

Sekalipun ia terkadang berbuat maksiat, namun ia masih berharap agar kejahatannya tidak terulang. Nafs jenis ini terdapat dalam al-Qur’an surat al-Qiyamah:

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ [٧٥:٢]

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (Qs. al-Qiyamah: 2)

Karakter nafs ini yaitu shaleh, bisa mengendalikan diri dan taat dalam mengerjakan ibadah namun terkadang masih terjerumus pada perbuatan dosa karena daya tarik terhadap keburukan lebih kuat daripada kebaikan sehingga masih mudah terkecoh dengan tarikan keburukan tersebut.

  • Nafs Mulhamah

Yaitu nafs yang telah memperoleh ilham dari Allah dengan dikaruniai ilmu pengetahuan dan dihiasi oleh akhlak mahmudah. Orang yang dengan nafs ini akan menghindari semua hal yang berkaitan dengan kejahatan dan cenderung melakukan kebaikan. Sebagaimana firman Allah:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا [٩١:٨]

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Qs. Al-Syams: 8).

Orang dengan jenis nafs ini masih berpeluang terpengaruh tipu daya. Dia seakan-akan telah mencapai maqam yang tinggi padahal dia masih terjerat dalam godaan setan. Dia penuh dengan keangkuhan sehingga seringkali memuji diri sendiri secara berlebihan.

  • Nafs Muṭmainnah

Nafs jenis keempat ini cenderung kepada kebaikan. Jiwa ini melahirkan sikap dan perbuatan yang baik, jauh dari keraguan dan menghalangi dari perbuatan dosa dan maksiat. Sebagaimana firman Allah:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ [٨٩:٢٧]ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً [٨٩:٢٨]فَادْخُلِي فِي عِبَادِي [٨٩:٢٩]  وَادْخُلِي جَنَّتِي [٨٩:٣٠]  

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.” (Qs. Al-Fajr: 27-30)

Jamaah salat Jumat yang berbahagia…

Sesungguhnya empat macam nafs yang disebutkan dalam al-Qur’an di atas mengandung pertingkatan. Tingkatan terendah adalah nafs ‘ammarah sedangkan tingkatan teratas yaitu nafs muṭmainnah. Nafs muṭmainnah adalah puncak kesempurnaan dan kebaikan nafsu manusia.

Buya Hamka menafsirkan nafs muṭmainnah dengan tingkatan jiwa yang telah mencapai ketenangan dan ketentraman karena telah digembleng oleh pengalaman dan penderitaan sehingga ia tidak lagi mengeluh bila diterpa masalah dan cobaan sebagaimana firman Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ [٢:١٥٥]الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ [٢:١٥٦]أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ [٢:١٥٧]

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wainna ilaihi rajiun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Baqarah: 155-157)

Jamaah salat Jum’at yang berbahagia..

Seorang muslim yang telah mencapai tingkatan nafs muṭmainnah perilaku dan sikapnya tenang dan tidak tergesa-gesa, penuh pertimbangan yang matang namun dalam hatinya tertanam perasaan lemah dan hina di hadapan Allah sehingga tidak pernah terbetik di hatinya untuk berlaku sombong sebagaimana ia tahu bahwa Allah sangat membenci orang-orang yang sombong.

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ [٣١:١٨]

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Qs. Luqman: 18)

Jamaah salat Jumat yang berbahagia…

Marilah kita muhasabah diri, termasuk pemilik nafs yang manakah kita? Apakah masih serendah nafs ‘ammārah, atau sedikit naik level ke nafs lawwāmah atau nafs mulhamah, ataukah telah mencapai tingkat tertinggi dan puncak yaitu nafs muṭmainnah.

Demikianlah khutbah pertama ini. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan taufiq-Nya. Aminn…

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Jamaah salat Jumat yang berbahagia…

Seseorang yang telah mencapai tingkat nafs muṭmainnah memiliki beberapa sifat terpuji yaitu al-Jud (tidak kikir), al-Tawakkal (pasrah kepada Allah), al-Ibādah (beribadah kepada Allah), al-Syukr (bersyukur atas segala nikmat Allah), al-Riḍā (rela terhadap hukum dan takdir dari Allah), dan al-Khaswat (takut mengerjakan kemaksiatan).

Maka marilah kita berupaya untuk mencapai sifat-sifat terpuji tersebut agar dapat memiliki nafs muṭmainnah (jiwa yang tenang) sehingga terhindarkan dari segala macam kemaksiatan dan senantiasa dekat dengan Allah dan akhirnya dapat memasuki surga Allah sebagaimana janji-Nya  وَادْخُلِي جَنَّتِي.

Jamaah salat Jumat yang berbahagia…

Berbahagialah orang-orang yang telah mencapai tingkat nafs muṭmainnah yang senantiasa sabar dan tenang ketika menerima kabar gembira (basyīran) dan kabar menakutkan (nażran). Ia ridha kepada Allah, dan Allahpun ridha kepadanya. Semoga kita termasuk di antara orang-orang tersebut. Aminnn…

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ، اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا وآخر دَعْوَانَا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

  
Penulis : Dewi Umaroh dan Ilham Ibrahim

Editor: Fauzan AS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.