Demak – Takmir Masjid Darussalam Demak yang beralamat di Jalan Kyai Jebat No. 9 menggelar pengajian Ramadhan 1446 H dengan tema Paham Hisab Muhammadiyah. Acara yang diselenggarakan pada Ahad, 16 Maret 2025 ini menghadirkan Ustadz Firqi Hidayat, S.Ag, lulusan PUTM Yogyakarta sekaligus pengajar di Pondok Pesantren Darussalam Demak.
Dalam sambutannya, Ketua Takmir Masjid Darussalam, Slamet Supriyadi, S.Pd, menekankan pentingnya pemahaman metode hisab dalam menentukan awal bulan Hijriah, termasuk awal Ramadhan, 1 Syawal (Idul Fitri), dan 10 Dzulhijjah (Idul Adha). “Pemahaman ini sangat penting agar umat Islam memiliki pedoman yang jelas dalam beribadah sesuai dengan ilmu falak,” ujarnya.
Dalam tauziahnya, Ustadz Firqi Hidayat menjelaskan bahwa Muhammadiyah konsisten menggunakan hisab dalam berbagai aspek ibadah, mulai dari penentuan arah kiblat, waktu sholat, awal bulan Kamariah, hingga fenomena gerhana Matahari dan Bulan. Berbeda dengan pemerintah yang menggunakan hisab hanya sebagai alat bantu dalam menentukan kemungkinan terlihatnya hilal untuk bulan-bulan ibadah, Muhammadiyah mengandalkan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal sebagai acuan utama.
“Metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah memiliki tiga kriteria utama untuk menentukan awal bulan Hijriah, yaitu:
- Telah terjadi ijtimak antara Bulan dan Matahari,
- Ijtimak terjadi sebelum Matahari terbenam,
- Saat Matahari terbenam, bulan masih berada di atas ufuk,” jelas Ustadz Firqi.
Tiga kriteria ini harus terpenuhi secara kumulatif agar bulan baru dapat dimulai. Jika tidak, maka awal bulan Hijriah akan mundur ke hari berikutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Firqi juga mengungkapkan bahwa demi kemaslahatan umat Islam secara global, Muhammadiyah akan beralih ke sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) mulai awal Muharram 1447 H. Langkah ini bertujuan untuk menyatukan kalender Islam di seluruh dunia, menciptakan sistem satu hari satu tanggal yang berlaku universal bagi seluruh umat Islam.
“Usia peradaban Islam telah mencapai hampir 1500 tahun, tetapi kita masih belum memiliki kalender pemersatu. Dengan KHGT, insyaAllah kita akan memiliki sistem penanggalan yang seragam, sehingga waktu ibadah umat Islam menjadi lebih terkoordinasi secara global,” tutupnya.
Pengajian ini diakhiri dengan sesi diskusi interaktif yang diikuti antusias oleh para jamaah. Mereka berharap pengajian semacam ini dapat terus diselenggarakan untuk memperdalam pemahaman keislaman, khususnya dalam bidang ilmu falak dan hisab.
Kontributor : Hening Wulandari



















