Oleh Nazula Rahma El Sakina
Ketua Umum PD IPM Demak Periode 2024–2026
“Allah tidak selalu membawa kita menuju tempat yang kita rencanakan, tetapi selalu membawa kita menuju tempat yang kita butuhkan.”
Semakin bertambah usia, semakin aku percaya bahwa hidup tidak selalu mengikuti peta yang kita gambar sendiri. Ada jalan yang berliku, pintu yang tak pernah kita rencanakan untuk dibuka, dan pertemuan yang tanpa disadari mengubah arah kehidupan.
Begitulah perjalananku bersama Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).
Bagi sebagian orang, IPM hanyalah organisasi pelajar. Bagiku, IPM adalah rumah. Rumah yang mengajarkanku berpikir, bertumbuh, melayani, dan memaknai amanah.
Perjalananku bersama IPM bahkan dimulai sebelum mengenakan jas almamater. Aku bisa dibilang lahir sebagai kader biologis. Ayah pernah aktif di IMM, sedangkan ibu merupakan kader IRM. Sejak kecil, aku akrab dengan cerita tentang rapat, pengkaderan, dan pengabdian, meski belum benar-benar memahami maknanya.
Saat duduk di bangku sekolah dasar, aku mulai mengikuti berbagai kegiatan IPM di tingkat cabang. Langkah kecil itu ternyata menjadi awal dari perjalanan panjang yang membentuk sebagian besar hidupku.
Memasuki SMP, aku dipercaya menjadi bagian dari IPM sekaligus OSIS sekolah. Di sanalah aku mengenal Taruna Melati 1 sebagai gerbang awal kaderisasi. Aku bukan kader yang paling hebat. Yang kumiliki hanyalah rasa ingin tahu dan keberanian untuk belajar.
Dari Taruna Melati 1, aku memahami bahwa kaderisasi bukan sekadar mengikuti pelatihan, melainkan proses membentuk karakter, cara berpikir, dan kesiapan untuk menerima amanah.
Pelajaran itu benar-benar terasa ketika duduk di bangku SMA. Aku diamanahi menjadi Ketua Umum Pimpinan Ranting IPM. Tak lama kemudian, seorang guru memintaku mendaftarkan diri sebagai calon formatur Musyawarah Daerah PD IPM Demak.
Sejujurnya aku ragu. Taruna Melati 2 saja belum kuikuti. Namun hidup ternyata tidak selalu menunggu seseorang merasa siap.
Aku terpilih sebagai Formatur Tetap dan diamanahi menjadi Ketua Bidang Perkaderan. Dari situlah aku belajar bahwa amanah tidak selalu datang setelah kita siap. Sering kali, amanahlah yang membentuk kesiapan itu.
Aku belajar dari para senior, membaca, berdiskusi, dan bertumbuh bersama proses. Pengalaman yang paling membekas adalah ketika menyelenggarakan Taruna Melati 2. Saat itu aku menjadi ketua panitia sekaligus peserta. Pengalaman tersebut mengajarkanku bahwa tidak ada proses yang benar-benar sempurna. Kadang kita harus belajar sambil berjalan, bahkan memimpin sambil terus ditempa.
Di penghujung periode, Allah kembali menitipkan amanah yang tak pernah kubayangkan. Aku dipercaya menjadi Ketua Umum PD IPM Demak.
Masih kuingat kalimat yang kuucapkan saat itu, “Bismillah, dengan semangat dan keyakinan, insyaallah saya siap dan bersedia. Mohon doa dan kerja samanya untuk menuntaskan amanah di periode ini.”
Kalimat itu lahir bukan karena aku merasa paling siap, tetapi karena aku yakin setiap amanah selalu membawa pelajaran.
Di awal kepengurusan bahkan sempat muncul candaan, “Ketua umum kok durung TM 3?” Candaan itu justru mengingatkanku bahwa perjalanan setiap kader tidak pernah sama. Yang terpenting bukan siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang tetap setia berproses.
Alhamdulillah, beberapa bulan kemudian aku memperoleh kesempatan mengikuti Taruna Melati 3 PW IPM Jawa Timur di Sidoarjo. Perjalanan itu meneguhkan keyakinanku bahwa kaderisasi adalah proses pendewasaan yang tidak pernah selesai.
Ketika menoleh ke belakang, begitu banyak pengalaman pertama yang Allah hadiahkan melalui IPM. Pertama kali mendaki gunung, bepergian sendiri menggunakan kereta, menaiki pesawat dan kapal laut, mengikuti forum nasional, berbicara di depan ratusan peserta, berdiskusi dengan tokoh Persyarikatan dan para pemimpin bangsa, hingga memperoleh beasiswa pendidikan S1.
Semua itu membuatku sadar bahwa IPM bukan sekadar memperluas relasi, tetapi juga memperluas cara pandang. Ia mempertemukanku dengan banyak orang baik, membuka cakrawala berpikir, dan mengajarkanku keberanian mengambil keputusan.
Karena itu, jika hari ini ada yang bertanya apa arti IPM bagiku, jawabanku tetap sama: IPM adalah rumah. Rumah tempat seorang kader belajar, bertumbuh, dan mengabdi.
Kepada seluruh kader IPM, khususnya di Kabupaten Demak, jangan pernah lelah berproses. Jangan terlalu sibuk mengejar jabatan hingga lupa menikmati perjalanan. Sebab yang membentuk kita bukanlah jabatan yang pernah disandang, melainkan keikhlasan dalam menjalani setiap amanah.
Ber-IPM-lah dengan hati. Ketika hati menjadi dasar pengabdian, Allah akan mempertemukanmu dengan jalan-jalan yang bahkan tidak pernah kaubayangkan.
Dan kepada para Tumwati, teruslah melangkah. Menjadi perempuan yang memimpin memang tidak selalu mudah, tetapi kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling lantang berbicara. Kepemimpinan adalah tentang siapa yang paling setia belajar, bertahan, dan menunaikan amanah.
“Nuun. Wal-qalami wa maa yasthurun.”
Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.



















