Demak – Pemahaman terhadap sejarah organisasi menjadi bagian penting dalam proses kaderisasi Pemuda Muhammadiyah. Hal inilah yang ditekankan dalam materi “Sejarah dan Kiprah Pemuda Muhammadiyah” yang disampaikan pada kegiatan Baitul Arqam Dasar (BAD) I Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Demak di Panti Putra Muhammadiyah Mranggen.
Materi tersebut disampaikan oleh Abdul Ghofar Ismail, MM, Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah, kepada para peserta kaderisasi sebagai bagian dari penguatan ideologi dan identitas gerakan pemuda Muhammadiyah.
Dalam pemaparannya, Abdul Ghofar Ismail menjelaskan bahwa Pemuda Muhammadiyah merupakan organisasi pemuda Islam yang memiliki sejarah panjang dalam perjuangan dakwah dan kebangsaan. Organisasi ini secara resmi berdiri pada 2 Mei 1932 atau bertepatan dengan 26 Dzulhijjah 1350 H, yang berawal dari embrio gerakan pemuda bernama Siswo Proyo Priyo (SPP) yang didirikan pada tahun 1918 di Yogyakarta.
Ia menegaskan bahwa lahirnya Pemuda Muhammadiyah tidak terlepas dari kebutuhan Muhammadiyah untuk menghimpun dan membina generasi muda terdidik agar mampu menjadi pelanjut dakwah Islam yang berkemajuan. Sejak awal berdirinya, organisasi ini diarahkan untuk membentuk kader yang memiliki akidah kuat, akhlak yang baik, serta kemampuan kepemimpinan dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Dalam materi tersebut juga dijelaskan bahwa identitas gerakan Pemuda Muhammadiyah berlandaskan semangat amar ma’ruf nahi munkar, dengan slogan Fastabiqul Khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Gerakan ini menanamkan nilai Islam berkemajuan yang moderat, berkemajuan, serta berorientasi pada kemaslahatan umat.
Lebih lanjut, Abdul Ghofar Ismail memaparkan perjalanan panjang Pemuda Muhammadiyah dalam berbagai fase sejarah Indonesia. Pada masa perjuangan kemerdekaan, kader-kader Pemuda Muhammadiyah turut terlibat aktif dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satu tokoh yang sering disebut dalam sejarah perjuangan tersebut adalah Jenderal Sudirman, yang memiliki kedekatan dengan gerakan kepanduan Hizbul Wathan dan kader Muhammadiyah.
Pada masa pembangunan hingga era reformasi, Pemuda Muhammadiyah terus menunjukkan kiprahnya melalui berbagai bidang, mulai dari pendidikan, penguatan kaderisasi, gerakan sosial kemanusiaan, hingga pemberdayaan ekonomi umat. Organisasi ini juga aktif membangun kesadaran kebangsaan serta menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat di tengah masyarakat.
Selain menyoroti sejarah, materi ini juga menekankan arah gerakan Pemuda Muhammadiyah di masa kini. Abdul Ghofar Ismail menjelaskan bahwa terdapat beberapa pilar penting yang menjadi fokus gerakan Pemuda Muhammadiyah saat ini, yaitu penguatan Islam berkemajuan, pengembangan kewirausahaan kader, serta kontribusi kebangsaan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah organisasi sangat penting bagi kader muda agar tidak tercerabut dari akar perjuangan Muhammadiyah. Dengan memahami perjalanan panjang organisasi, kader diharapkan mampu melanjutkan estafet perjuangan dengan semangat yang lebih kuat, militansi yang tinggi, serta visi keumatan dan kebangsaan yang jelas.
Melalui materi ini, para peserta Baitul Arqam Dasar diharapkan tidak hanya mengetahui sejarah Pemuda Muhammadiyah secara akademis, tetapi juga mampu menumbuhkan rasa bangga, memiliki, dan tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan dakwah dan gerakan sosial yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Sebagaimana disampaikan dalam penutup materi, pemuda merupakan kekuatan perubahan, dan Pemuda Muhammadiyah adalah jalan pengabdian untuk mewujudkan peradaban Islam yang berkemajuan di Indonesia.



















