YOGYAKARTA — Membaca Al-Qur’an perlu disertai pemahaman terhadap makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. Lebih jauh, pemahaman tersebut perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta Nur Ahmad Ghozali mengingatkan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman yang hidup dalam keseharian.
Hal tersebut disampaikan dalam Khutbah Jumat pada Jumat (11/09). Dalam khutbahnya, Nur Ahmad mengangkat Surah Al-Ma’un sebagai salah satu landasan penting dalam memahami hubungan antara ibadah kepada Allah dan kepedulian kepada sesama manusia.
Menurutnya, Surah Al-Ma’un telah menjadi bagian penting dalam perkembangan gerakan Muhammadiyah sejak KH Ahmad Dahlan. Semangat tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai amal usaha Muhammadiyah yang memberikan perhatian kepada anak yatim, kaum dhuafa, orang sakit, serta masyarakat yang membutuhkan bantuan.
“Wujud konkret dari gerakan Al-Ma’un ini kita ketahui adanya beberapa lembaga-lembaga yang kemudian menaungi anak-anak mustadh’afin, anak-anak dhuafa melalui panti asuhan Muhammadiyah, melalui rumah sakit-rumah sakit Islam yang didirikan PKU, kemudian juga melalui lembaga-lembaga pendidikan untuk kemudian anak-anak dididik,” tuturnya.
Al-Ma’un dan Kepedulian Sosial
Nur Ahmad menjelaskan, secara etimologis al-ma’un berkaitan dengan sesuatu yang berguna dan bermanfaat. Dalam tafsir klasik, istilah tersebut juga dapat dipahami sebagai hal-hal kecil yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bantuan kepada sesama.
“Perbuatan kebaikan berupa pemberian bantuan kepada sesama manusia dalam hal-hal kecil,” jelasnya. Dalam makna yang lebih luas, al-ma’un mencakup pemberian bantuan dan pertolongan dalam menghadapi berbagai kesulitan.
Menurut Nur Ahmad, pesan tersebut berkaitan erat dengan kritik Al-Qur’an terhadap perilaku yang memisahkan ibadah dari kepedulian sosial. Ia menjelaskan bahwa orang-orang yang disebut dalam Surah Al-Ma’un memperlihatkan sikap riya dalam salat dan enggan memberikan bantuan kepada orang miskin serta anak yatim.
Karena itu, ibadah ritual perlu melahirkan kesadaran kemanusiaan. Salat dan zikir semestinya membentuk kepedulian yang terlihat dalam perilaku menolong, membangun, dan mengembangkan kehidupan masyarakat.
“Kesadaran bahwa tidak ada artinya ibadah kita itu kalau kemudian tidak ada kesadaran kemanusiaannya kepada orang lain seperti sifat menolong, sifat kemudian membangun, sifat mengembangkan,” katanya.
Lima Tahap Memahami Al-Qur’an
Dalam khutbah tersebut, Nur Ahmad juga menjelaskan metode yang dikaitkan dengan interpretasi KH Ahmad Dahlan terhadap Surah Al-Ma’un. Menurutnya, setidaknya terdapat lima hal yang dapat dilakukan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Pertama, mengenal arti ayat. Membaca Al-Qur’an perlu disertai usaha memahami arti ayat, dan bila memungkinkan dilanjutkan dengan mempelajari tafsirnya.
“Kita mengenal artinya. Mengenal ketika memahami ayat juga kita tidak hanya membaca ayat itu, tapi kemudian mengenal artinya. Syukur kemudian tafsirnya,” ujarnya.
Kedua, memahami tafsir dan maksud yang terkandung dalam ayat. Menurutnya, kemampuan menghafal Al-Qur’an perlu diikuti kemampuan memahami pesan yang terkandung dalam ayat yang dihafalkan.
Ketiga, ketika menemukan larangan dalam Al-Qur’an, seorang Muslim perlu bertanya kepada dirinya apakah larangan tersebut sudah ditinggalkan. Keempat, ketika menemukan perintah, pertanyaan yang perlu diajukan adalah apakah perintah tersebut sudah diamalkan dalam kehidupan.
“Ketika kita mengherdik anak yatim kemudian meninggalkan orang miskin itu bukan larangan, tapi itu adalah perintah,” ungkapnya.
Kelima, apabila perintah dalam ayat belum diamalkan, seseorang perlu mendahulukan pengamalan tersebut sebelum melanjutkan kepada ayat berikutnya.
“Maka jangan membaca ayat yang lain sebelum kemudian melaksanakan apa yang perintah yang harus dikerjakan, larangan yang harus ditinggalkan betul-betul ditinggalkan,” tegasnya.
Nur Ahmad kemudian mengaitkan pemahaman terhadap Surah Al-Ma’un dengan keberadaan amal usaha Muhammadiyah. Semangat membantu kaum dhuafa diwujudkan melalui lembaga pendidikan, panti asuhan, dan rumah sakit yang memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Ia mencontohkan pendidikan bagi anak-anak dhuafa sebagai upaya agar mereka memiliki kemampuan untuk berkembang dan menjalani kehidupan secara mandiri. Sementara itu, PKU Muhammadiyah diarahkan untuk membantu masyarakat yang sakit dan berada dalam kesusahan.
“Bagaimana penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya kemudian kita baca, kita harus yang pertama adalah mengenai artinya, mengenal dan tahu artinya, kemudian memahami tafsir dan maksudnya,” jelasnya.



















