Demak – Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Darussalam Muhammadiyah Demak menggelar kegiatan manasik haji dengan mengangkat tema “Filosofi dan Psikologi Haji” pada Ahad, 25 Januari 2026. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada calon jemaah haji, tidak hanya dari aspek fikih, tetapi juga dari sisi spiritual dan psikologis.
Hadir sebagai narasumber, dr. H. Fuad Al Hamidy, M.Kes, yang menyampaikan bahwa ibadah haji pada hakikatnya merupakan proses penyucian jiwa, pembentukan kesadaran spiritual, serta penguatan ketaatan total kepada Allah SWT. Menurutnya, setiap rangkaian ibadah haji mengandung makna filosofis dan psikologis yang sangat dalam.
“Filosofi dan psikologi haji pada dasarnya mengajarkan pelepasan ego, kesetaraan manusia, dan kepasrahan total kepada Allah SWT. Hal ini tercermin dalam setiap ritual haji, mulai dari ihram, sa’i, hingga wukuf,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa ibadah haji merupakan napak tilas perjuangan para nabi dan rasul, sekaligus sarana untuk memantapkan keimanan dan tauhid kepada keesaan Allah SWT. Haji juga menjadi bentuk keikhlasan memenuhi panggilan Allah dengan meninggalkan kenyamanan duniawi serta membangun kesadaran tentang kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta.
Dalam pemaparannya, dr. Fuad menguraikan makna dari setiap rangkaian ibadah haji. Ihram, misalnya, melambangkan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT, di mana semua atribut duniawi ditanggalkan. Pakaian ihram yang putih bersih mengingatkan manusia pada awal kelahiran dan akhir kehidupan, serta kesiapan untuk kembali menghadap Allah SWT kapan pun.
Sementara itu, Ka’bah dijelaskan sebagai rumah ibadah pertama yang dibangun dan menjadi kiblat umat Islam sedunia. Ka’bah berfungsi sebagai pemersatu umat, bukan untuk disembah, melainkan sebagai simbol tauhid dan pusat orientasi ibadah.
Pada prosesi tawaf, jemaah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali searah dengan putaran alam semesta, meneladani amalan para malaikat yang mengelilingi Arasy. Tawaf mencerminkan kekompakan, kekuatan, dan kemurnian akidah umat Islam.
Makna sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah, lanjutnya, merupakan simbol perjuangan dan pengorbanan seorang ibu, Siti Hajar, dalam menyelamatkan putranya Nabi Ismail AS. Sa’i mengajarkan bahwa untuk mencapai tujuan diperlukan usaha, kerja keras, kesungguhan, dan tawakal kepada Allah SWT.

Puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah, digambarkan sebagai miniatur Padang Mahsyar. Semua jemaah dengan pakaian ihram berkumpul, berdoa, berdzikir, dan bermunajat kepada Allah SWT, merefleksikan pertanggungjawaban manusia atas seluruh amal perbuatannya selama hidup di dunia. Wukuf juga menjadi momentum taubat dan pembaruan diri, sekaligus ajang pertemuan umat Islam dari berbagai bangsa dan budaya.
Rangkaian haji dilanjutkan dengan mabit di Muzdalifah, yang dimaknai sebagai waktu istirahat dan penguatan diri sebelum menghadapi “perang besar” melawan hawa nafsu dan godaan setan. Pengambilan batu di Muzdalifah menjadi simbol persiapan spiritual dalam menghadapi godaan tersebut.
Prosesi melempar jumrah merupakan pernyataan sikap tegas dalam memerangi setan dan segala bentuk godaannya, meneladani Nabi Ibrahim AS. Sedangkan tahallul melambangkan pembersihan diri dari simbol-simbol kehormatan duniawi serta penyempurnaan ibadah haji.
Adapun tawaf wada’ menjadi penutup rangkaian ibadah haji yang sarat dengan nilai etika dan akhlak silaturahmi, sekaligus ungkapan kerinduan untuk kembali ke Tanah Suci.
Mengakhiri pemaparannya, dr. Fuad Al Hamidy menegaskan bahwa ibadah haji sarat dengan makna spiritual yang mendalam. “Haji adalah proses pelepasan diri dari kesenangan duniawi dan kembali kepada kesucian, pengabdian, serta ketundukan total kepada Allah SWT,” pungkasnya.
(Heri)



















