Sholahuddin Al Ayyubi – Summary PKMTM III Jawa Tengah
Kamis, 14 Mei 2026
Risalah Islam Berkemajuan merupakan prinsip pemikiran yang dikembangkan dalam Muktamar ke-48 di Surakarta, yang dimaksud islam berkemajuan adalah bersikap moderat (Wasathiyah) serta terbuka dan tidak stagnan terhadap perubahan zaman namun tetap mengedepankan nilai-nilai islam sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sedangkan yang dimaksud dengan kosmopolitan adalah memiliki wawasan global dan pengetahuan luas (world view) serta bersikap Global Village yang makna-Nya adalah menganggap dunia itu satu tanpa membeda-bedakan yang lain dan bersifat adil karena setiap manusia memiliki hubungan komunitas tunggal antar tiap manusia.
Era saat ini merupakan era society 5.0 yang fokus terhadap teknologi yang membantu manusia. Pada era ini teknologi bukan lagi sekadar alat industri, melainkan bagian dari kehidupan manusia menurut Andar “Era society 5.0 merupakan era AI didominasikan di berbagai aspek” ia menegaskan bahwa AI adalah tantangan dalam bentuk individualisme. Ia juga menjelaskan bahwa pelajar di era ini harus lebih kritis dalam menerima informasi karena banyak sekali hoax yang tersebar.
Muhammadiyah sadar akan apa yang akan dihadapi kedepan-nya seperti di era saat ini yang serba memanfaatkan teknologi, dakwah tak hanya sekadar mendengarkan kajian di dalam majelis tetapi Muhammadiyah mengemas hal tersebut melalui digitalisasi dakwah yang dapat didapatkan dengan mudah melalui media sosial yang tersebar di berbagai platform, Andar juga menyebut bahwa arah gerakan Muhammadiyah adalah memberdayakan ekonomi seperti yang sudah dilakukan Muhammadiyah seperti adanya KopiMu, MieMu bahkan sudah mencapai ranah jasa ojek online, yaitu Zendo. Serta Muhammadiyah sadar bahwa bahasa internasional sangat penting di era society 5.0 maka dari itu Muhammadiyah juga sedang membangun sekolah internasional dan sekolah bilingual yang berfokus pada penguatan Bahasa inggris.
Andar memberikan argumen bahwa era society 5.0 dengan islam berkemajuan juga saling terhubung, yaitu hal tersebut merupakan upaya untuk merespon era sebelumnya yaitu society 4.0 namun tetap dalam genggaman positif dan islam sendiri dapat direalisasikan dalam berbagai aspek seperti pendidikan, ekonomi, dll yang dari perealisasian tersebut dapat dikembangkan untuk kemaslahatan umat. Terutama pada aspek pendidikan yang merupakan orientasi pada perubahan, peradaban dan kemajuan. Maka dari itu AI ada untuk membantu para pelajar saat ini untuk menambah wawasan dan memanfaatkan kemudahan tersebut untuk membantu mewujudkan aspek tersebut.
Hammam menyebut bahwa “Pelajar zaman sekarang-lah yang akan melanjutkan Islam berkemajuan pada era yang akan datang karena mereka-lah yang akan meneruskan Muhammadiyah jika kita sudah tidak ada.” Hammam mencontohkan sikap mental aktivis Muhammadiyah yang dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:
- Bio Genetik,
Muhammadiyah sebagai orientasi lahan materialisme, yang dimaksud disini adalah aktivis yang di Muhammadiyah mencari dunia seperti teman, barang, dan bahkan uang. Seringkali yang berada disini ialah aktivis yang terpaksa di amal usaha Muhammadiyah untuk menghidupi keluarga atau sekadar mencari relasi.
- Sosio Genetik,
Muhammadiyah sebagai basis dari pengaruh sosial, ekonomi, dsb, disini yg dimaksud ialah aktivis yang tertarik untuk mengikuti Muhammadiyah dikarenakan nama Muhammadiyah itu sendiri, ia merasa bahwa mengikuti Muhammadiyah adalah jalan yang benar karena pengaruh yang Muhammadiyah ciptakan baik secara social, ekonomi atau yang lainnya.
- Idio Genetik,
Muhammadiyah sebagai media aktualisasi, eksplorasi dan eksperimentasi ideologi dan cita-cita hidup, aktivis yang disini ialah aktivis yang ingin berkembang bersama Muhammadiyah, tak hanya ingin ia juga merasa dapat mengembangkan Muhammadiyah. Ia merasa mempunyai potensi yang dapat ia eksplor lebih jauh. Rata-rata yang berada di fase ini ialah pelajar atau mahasiswa yang ingin ber-eksperimen lebih jauh tentang skill yang ia punya.
- Theo Genetik,
Muhammadiyah sebagai lahan mengabdikan hidup, energi, amal jariyah dan menebar ilmu demi kemajuan agama islam (Jihad suci fii sabilillah), di fase ini lah aktivis mulai sadar bahwa jika ia tak mengabdikan hidup pada Muhammadiyah ia merasa sia-sia ilmu dan harta yang ia telah ia kejar. Sering kali yang bearada di fase ini merupakan Ayahanda Muhammadiyah atau Ibunda Aisyiyah.
Seperti yang dijelaskan oleh Hammam tentang jenis yang sering dijumpai adanya pelajar pada fase tersebut ialah Idio Genetik, terutama pelajar pada era society 5.0 sekarang yang memang perlu banyak yang kesiapan untuk menghadapi tantangan di era ini.
IPM memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi tantangan di era Society 5.0, yaitu sebagai agen literasi dan penggerak berpikir kritis di kalangan pelajar. Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital, IPM tidak hanya mendorong anggotanya untuk mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami, menyaring, serta menganalisis informasi secara bijak agar tidak mudah terpengaruh hoaks, provokasi, maupun budaya konsumtif digital. Melalui penguatan literasi digital, IPM dapat menciptakan pelajar yang adaptif, kreatif, dan produktif dalam memanfaatkan media sosial maupun teknologi sebagai sarana dakwah, pendidikan, serta pengembangan potensi diri. Selain itu, IPM juga berperan dalam membentuk pemimpin muda yang inovatif dan kolaboratif, yaitu pemimpin yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat dengan memanfaatkan kreativitas, kerja sama, dan pemikiran yang terbuka terhadap perubahan. Dengan demikian, IPM tidak hanya menjadi organisasi pelajar biasa, tetapi juga menjadi wadah pembentukan generasi berkemajuan yang siap bersaing dan memberikan dampak positif bagi masyarakat di era Society 5.0.
*) Artikel ini Adalah catatan singkat dari 2 materi Pelatihan Kader Madya Taruna Melati 3 Jawa Tengah pada tanggal 8 dan 9 Mei 2026 bersama Bapak Hamam, M.Pd.,Ph.D dan Bapak Andar Nubowo, Ph.D.


















