Perhatian Buya Syafii untuk Perluasan Gerakan Perempuan Islam Berkemajuan

DEMAKMU.COM | PUSAT – Di bawah kepemimpinan Buya Syafii Maarif, pada tahun 2000 Muhammadiyah menyelenggarakan Muktamar ke-44. Pada muktamar tersebut diputuskan beberapa hal, di antaranya menetapkan ‘Aisyiyah sebagai organisasi otonom (Ortom) khusus. Keputusan ini memberikan keluasan dan membuka ruang bagi ‘Aisyiyah dalam melebarkan gerakan dakwahnya.

Seperti yang dituturkan oleh Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Aisyah pada Sabtu (28/5) di acara Perempuan Mengaji yang diadakan oleh Majelis Tabligh PP ‘Aisyiyah secara virtual.

“Tahun 2000 ada keputusan muktamar yang menetapkan, memutuskan, memberikan posisi ‘Aisyiyah sebagai Ortom khusus. Memberikan keluasan, membuka ruang, membuka akses ‘Aisyiyah memiliki kesempatan sama dengan Muhammadiyah dalam melakukan berbagai kegiatan dan amal usaha”. Tuturnya.

Keputusan muktamar pada periode Buya Syafii tersebut merubah langkah gerak ‘Aisyiyah, di mana sebelumnya hanya memiliki amal usaha Taman Kanak-Kanak (TK), ‘Aisyiyah kini berkembang jauh hingga mendirikan sekolah dasar, sampai perguruan tinggi yang dikelola secara profesional oleh ‘Aisyiyah.

“Demikian juga jika dahulu hanya memiliki klinik bersalin, kemudian sudah bisa membuka rumah sakit. Ini adalah periode Allahuyarham Prof. Dr. Syafii Maarif,” ungkapnya.

Siti Aisyah menjelaskan bahwa, kehadiran sosok Buya Syafii begitu kuat dalam gerakan perempuan Islam berkemajuan dalam membangun Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah.

“Beliau mendorong bahwa untuk ‘Aisyiyah bisa lebih dinamis, karena kesempatan dan aksesnya sudah dibuka sedemikian luas”. Imbuhnya.

“Kepada Suara ‘Aisyiyah beliau (Buya Syafii) senantiasa mendorong agar Suara ‘Aisyiyah itu menjadi suara dari perempuan berkemajuan yang akan memberikan pencerahan kepada para perempuan khususnya, dan pada keluarga-keluarga dan masyarakat,” sambung Aisyah.

Dia berharap banyaknya peninggalan baik berupa gagasan atau pemikiran dan lain sebagainya dibalas jannatun naim oleh Allah SWT. Kepulangan Buya Syafii ke haribaan Allah SWT tidak boleh diratapi terlalu lama, sebab generasi masa kini harus kembali melangkah melanjutkan cita-cita luhur Guru Bangsa, Buya Syafii Maarif.

“Kita semua meneruskan pemikiran beliau, meneruskan rintisan beliau sebagai Guru Bangsa yang istiqamah, yang memiliki pendirian yang kuat, namun beliau juga terbuka, bersifat inklusif, bisa bergaul dengan semuanya sebagai ekspresi dari misi islam rahmatan lil alamin,” ucapnya.

 35 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.