Kader Muhammadiyah harus Menjadi Benteng Moralitas Bangsa!

DEMAKMU.COM | PUSAT – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dahlan Rais mengingatkan agar jangan sampai melahirkan dzurriyatan dhi’afan (generasi yang lemah). Sebagian ahli tafsir seperti Imam Nawai menganggap bahwa maksud QS. An Nisa ayat 9 tersebut, yaitu jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah itu tidak hanya di bidang ekonomi, tapi juga meliputi ilmu pengetahuan, keagamaan (pemahaman/penguasaan), dan akhlaknya.

“Muslim itu diingatkan jangan meninggalkan dzurriyatan dhi’afan atau generasi yang lemah. Lemah di sini sebagian mufassir mengaitkan dengan ekonomi karena ayat sebelumnya tentang waris. Tapi ada juga yang menafsirkan dengan lemah dalam arti luas sepeti iman, akal, dan lain-lain. Jadi kita ingin meneruskan kader yang kuat secara ekonomi maupun iman dan intelektual,” ucap Dahlan Rais dalam acara Raker Majelis Rapat Kerja Nasional Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah pada Sabtu (22/01).

Bagi Dahlan Rais, keterangan mufassir tentang QS. Al-Nisa ayat 9 di atas bisa dijadikan sebagai landasan teologis kenapa harus melakukan kaderisasi secara terus menerus. Ia menekankan agar kader Muhammadiyah tidak hidup di menara gading yang hanya melihat keriuhan masyarakat dari ketinggian. Baginya, kader Muhammadiyah harus tetap hidup dan kokoh keberadaannya sebagai organisasi dalam mengemban misi dakwah dan tajdid.

“Muhammadiyah ini tidak kalis, tidak berada di ruang vakum dari masyarakat Indonesia. kita tahu persis penyakit materialistik dan hedonistik, kita sedang diuji, kita begitu rapuh menghadapi tantangan itu. Boleh jadi penyakit itu masuk ke Muhammadiyah,” kata Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta ini.

Problem konkret yang harus segera diatasi kader Muhammadiyah ialah orientasi hidup yang mulai memuja materi dan kesenangan indrawi, menjadi alam pikiran dan praktik hidup yang meluas dengan menabrak nilai-nilai moral agama maupun keadaban budaya. Dahlan berharap agar kader Muhammadiyah menyadarkan orientasi hidup masyarakat pada nilai-nilai etik yang utama (al-qiyamu al-fadhilah) dan menjadi benteng moralitas bangsa.

“Harapan saya masalah perkaderan ini bisa menjadi benteng moralitas dan bagaimana menghadapi serbuan ancaman berbagai isme yang itu sangat berlawanan dengan cita-cita kita bersama. Kader itu kan bagian inti dari anggota, tapi juga harus berfungsi sebagai benteng agar tidak tersusupi dari berbagai ancaman termasuk dari ragam ideoologis,” tutur Dahlan Rais.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.